sunarma.net: itulah lanjutan posting aku di indoorcommunity

ah, mana mungkin aku harus melepaskan komunitas ini, ini adalah sekolahan kita (begitu aku pernah bilang kan!!!).

INDOOR Community sudah menempuh perjalanan yang penuh suka duka (nggak percaya? tanya sama yang pernah berkunjung ke INDOOR).  Wajarlah, dan perlu, blog ini didedikasikan untuk mereka, dan aku ingin terus terlibat didalamnya……. Blog ini pula yang membantu aku ketika jatuh bangun (bukan bangun tidur, walaupun pernah sampe harus tidur di sekrenya pasca biologi) dalam penelitian.  Blog ini pula yang membuat aku “merasa harus berjanji” pada beliau: uang pertama yang aku dapat dari blog, akan dipake utk hosting; meskipun ternyata aku pake ganti hp tapi selanjutnya memang aku pake utk hosting).  Blog ini pula yang memberi kabar bahwa di “dunia persilatan sana” ada orang yang “menggantungkan informasi pada internet (mungkin ini yang harus aku jadikan usaha sampingan).  Blog ini berjasa untuk aku bisa berinteraksi dengan orang luar sana yang berminat pada akuakultur Indonesia (ternyata sempat kopdar sama Mr Charles Qua di hatcherinya).

Aku ingin punya tempat yang lebih personal (dan tidak terlalu panjang ketika harus dicantumkan di namecard), juga lebih representatif ketika harus aku tulis bilingual dengan bahasa inggris (sekalian belajar, neng!!!).  Maka, bukanlah mendua (emangnya selingkuh…..he69x!) bila kemudian aku pake sunarma.net untuk posting selanjutnya.  Aku akan tetap dengan indoorcommunity dan sangat gembira bila ada yang mau turut memberikan kontribusi, apapun juga!

Terima kasih atas support Anda semua dan semoga kita sukses dengan pekerjaan.

Aquaculture: save our water

Proses produksi akuakultur hampir identik dengan kebutuhan ketersediaan suplai air yg besar dibandingkan dengan bidang lainnya, misalnya tanaman. Meskipun hal tersebut masih memerlukan kajian yg lebih mendalam, namun selayaknya para saintis/praktisi akuakultur melakukan terobosan untuk membuat suatu sistem produksi akuakultur yg hemat air. Karena bagaimanapun juga, air buangan dari sistem akuakultur tidak dapat secara langsung digunakan untuk kebutuhan manusia walaupun mungkin dapat memberikan nilai tambah bagi pengguna air bidang lain.

Proses produksi akuakultur yang menawarkan konsep hemat air adalah penerapan sistem resirkulasi (aliran tertutup) dan sistem guna-ulang (reuse). Kedua sistem tersebut memerlukan unit pengolahan limbah (filter fisik dan biofilter termasuk integrasi dengan tanaman, aquaponik atau minaponik) yg mengkondisi ulang kualitas air untuk layak kembali digunakan. Sistem ini memerlukan biaya investasi yg relatif tinggi namun menawarkan peluang penggunaan lahan dan air yang sangat efisiensi.

Secara praktis, konsep sistem akuakultur yg hemat air dengan biaya yang sangat murah dapat pula dilakukan melalui pemilihan jenis ikan yang tepat, memiliki produktifitas dan toleransi lingkungan yg tinggi. Pilihan pertama konsep ini adalah budidaya lele. Dalam satu siklus budidaya (dua bulan), tingkat produksi dapat mencapai 1 ton pada lahan hanya 40-50 m2 dan kebutuhan air hanya 40-50 m3. Bahkan dengan sistem budidaya yang lebih baik atau penggunaan bakteri pengurai (probiotik), sangat dimungkinkan pada siklus berikutnya memerlukan air hanya 20-25 m3.

(ide tulisan muncul ketika mampir di satu rumah makan, barat Leuwiliang Bogor, tempat dimana pernah makan malam, dengan lampu teplok karena listrik padam, saat penelitian resirkulasi berulang gagal, tahun 1997)

dedicated to my research colleague: Oko n Gita 

juraganindoor@9300i

my water, my land

Bila matahari pagi ini menghangati diri,
Aku sedang berusaha menuju dirimu.
Selayak menapaki jejak kali ketiga untuk bersua.
Aku masih ingin mengikat diri pada keyakinan,
Untuk berbaik diri!
Bila harapan yang masih berlari!

Aku masih harus berkaca pada kenyataan!
Semaian larva yang kutitip harapan,
Masih saja berkubang lumpur.
Di ketika aku mesti menagakkan dada!
Datanglah dirimu dengan kenyataan yang kuharap.
Biarlah alam menunjukkan keberpihakkan padaku.
Terima kasih atas dukungan inovasi dan cinta.

to: my goramy

dinihari menjelang,
perlahan,
hujan menembus pekatnya dingin,
melebarkan fluktuasi kehangatan dirimu.

Jauh langkahmu melewatinya,
takdir yg bicara dua jam berlalu,
menutup insangmu yg rindu atmosfir,
menghentikan embun di ujung rerumputan.

Berkacalah pada kesabaran,
melayang,
menjauhkan rengkuh yg mengkerut,
diatas goresan durimu.

Pada harapan diri yg tertahan,
semesti ini berbicara padamu,
tentang kenyataan yg bersua,
ya,
aku harus ada.


lanjutan blog ini/ further this blog!!!

sunarma.net2

RSS http://sunarma.net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

sejak 23 Juni 2007

  • 116.253 pengunjung