Archive for the '1my_land-water' Category

Aquaculture: save our water

Proses produksi akuakultur hampir identik dengan kebutuhan ketersediaan suplai air yg besar dibandingkan dengan bidang lainnya, misalnya tanaman. Meskipun hal tersebut masih memerlukan kajian yg lebih mendalam, namun selayaknya para saintis/praktisi akuakultur melakukan terobosan untuk membuat suatu sistem produksi akuakultur yg hemat air. Karena bagaimanapun juga, air buangan dari sistem akuakultur tidak dapat secara langsung digunakan untuk kebutuhan manusia walaupun mungkin dapat memberikan nilai tambah bagi pengguna air bidang lain.

Proses produksi akuakultur yang menawarkan konsep hemat air adalah penerapan sistem resirkulasi (aliran tertutup) dan sistem guna-ulang (reuse). Kedua sistem tersebut memerlukan unit pengolahan limbah (filter fisik dan biofilter termasuk integrasi dengan tanaman, aquaponik atau minaponik) yg mengkondisi ulang kualitas air untuk layak kembali digunakan. Sistem ini memerlukan biaya investasi yg relatif tinggi namun menawarkan peluang penggunaan lahan dan air yang sangat efisiensi.

Secara praktis, konsep sistem akuakultur yg hemat air dengan biaya yang sangat murah dapat pula dilakukan melalui pemilihan jenis ikan yang tepat, memiliki produktifitas dan toleransi lingkungan yg tinggi. Pilihan pertama konsep ini adalah budidaya lele. Dalam satu siklus budidaya (dua bulan), tingkat produksi dapat mencapai 1 ton pada lahan hanya 40-50 m2 dan kebutuhan air hanya 40-50 m3. Bahkan dengan sistem budidaya yang lebih baik atau penggunaan bakteri pengurai (probiotik), sangat dimungkinkan pada siklus berikutnya memerlukan air hanya 20-25 m3.

(ide tulisan muncul ketika mampir di satu rumah makan, barat Leuwiliang Bogor, tempat dimana pernah makan malam, dengan lampu teplok karena listrik padam, saat penelitian resirkulasi berulang gagal, tahun 1997)

dedicated to my research colleague: Oko n Gita 

juraganindoor@9300i

Iklan

my water, my land

Bila matahari pagi ini menghangati diri,
Aku sedang berusaha menuju dirimu.
Selayak menapaki jejak kali ketiga untuk bersua.
Aku masih ingin mengikat diri pada keyakinan,
Untuk berbaik diri!
Bila harapan yang masih berlari!

Aku masih harus berkaca pada kenyataan!
Semaian larva yang kutitip harapan,
Masih saja berkubang lumpur.
Di ketika aku mesti menagakkan dada!
Datanglah dirimu dengan kenyataan yang kuharap.
Biarlah alam menunjukkan keberpihakkan padaku.
Terima kasih atas dukungan inovasi dan cinta.

to: my goramy

dinihari menjelang,
perlahan,
hujan menembus pekatnya dingin,
melebarkan fluktuasi kehangatan dirimu.

Jauh langkahmu melewatinya,
takdir yg bicara dua jam berlalu,
menutup insangmu yg rindu atmosfir,
menghentikan embun di ujung rerumputan.

Berkacalah pada kesabaran,
melayang,
menjauhkan rengkuh yg mengkerut,
diatas goresan durimu.

Pada harapan diri yg tertahan,
semesti ini berbicara padamu,
tentang kenyataan yg bersua,
ya,
aku harus ada.

ikan air-darat

“Belajarlah dari alam, tapi jangan sampai alam harus mengajari kita. Memanfaatkan alam bagi kepentingan manusia adalah suatu kemestian dan kewajaran. Namun bila kemudian pemanfaatan itu berdampak negatif bagi manusia, tentu sewajarnya bila kita berkaca”.

Issue hangat sekitar dampak manusia terhadap alam adalah global warming atau pemanasan global. Emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 70 persen antara 1970 hingga 2004, konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer jauh lebih tinggi dari kandungan alaminya dalam 650 ribu tahun terakhir, rata-rata temperatur global telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derajat Celcius) dalam 100 tahun terakhir dan muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961 (http://www.kompas.com/ver1/Iptek/0711/19/191903.htm) selalu dikaitkan sebagai akibat adanya pemanasan global.

Average World Temperature Has Risen 0.42 deg. C (0.8 F) since 1850
Rata-rata temperatur global sejak tahun 1850 (http://www.oceansatlas.org)
Lalu, bagaimana dampak pemanasan global tersebut tersebut sistem akuakultur, terutama di daerah tropis? Sebagian besar ikan tropis, terutama yang dibudidayakan, menunjukkan performa pertumbuhan yang lebih tinggi pada kondisi lingkungan yang hangat. Mengacu sifat fisiologis ikan tersebut, para pembudidaya kemudian mengadopsi fenomena efek rumah kaca (green house effect) pada sistem atmosfer bumi pada skala yang lebih sempit pada ruangan pembenihan ikan (hatchery). Dari sisi tersebut, pemanasan global akan memberikan dampak positif terhadap keberhasilan proses akuakultur (Dr. Brad Hicks, http://www.cics.uvic.ca/workshop/b-hicks.htm). Meskipun demikian, di sisi lain, beberapa spesies ikan akuakultur, terutama yang bersifat katadromus, seperti sidat (eel, Anguilla spp.) atau udang galah (prawn, Macrobrachium rosenbergii) mungkin akan mengalami dampak negatif.
(ketika lagi asyik surfing, aku ketemu abstrak Dr. Brad Hicks dan cukup menarik karena mengajukan tesis adanya manfaat global warming terhadap akuakultur. Tesis yang nampaknya cukup “bersebrangan” dengan current issue yang hampir selalu menyajikan dampak negatif dari global warming)

lanjutan blog ini/ further this blog!!!

sunarma.net2

RSS http://sunarma.net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Konsultan Akuakultur

Perlu bantuan untuk: Pemijahan ikan, Pengembangan usaha perikanan, Pembangunan Balai Benih Ikan, Pengadaan sarana produksi perikanan; Atau perlu kerjasama penelitian dan lainnya seputar akuakultur; Hubungi kami : juraganindoor(at)yahoo(dot)co(dot)id

juraganindoor[at]yahoo.co.id

“Book for YOU!”

a

Komentar yang memerlukan jawaban akan dijawab melalui email secara personal, jadi komentar hendaknya disertai alamat email yang terdaftar.

sejak 23 Juni 2007

  • 115.400 pengunjung

datang dari:

site statistics

support me, please!

TopAquaticSites.com Indonesia To Blog -Top Site All Tropical Fish Topsites List

who will give me the book?

1-84265-369-5 eel eel biology
Iklan