KeepinMind: Akuakultur di Kampar

Harga lokal ikan yang tinggi, ragam ukuran dan jenis ikan yang dapat diterima masyarakat, sejauh ini bebas bencana KHV dan sumber daya perairan yang mendukung merupakan keunggulan komparatif bagi pengembangan usaha akuakultur di Kampar. Wajar saja, produksi ikan mas konsumsi selama 2-3 bulan di keramba jaring apung (KJA) dapat mendatangkan keuntungan bersih Rp 10-15 juta per unit. Namun, bagaimanapun juga ketergantungan suplai benih dari daerah lain dapat menjadi faktor pembatas pengembangan usaha ke depannya.

Adalah sebuah kesempatan yang tak layak untuk disia-siakan, ketika seorang sahabat meminta datang ke lokasi tempatnya menjalankan usaha pembenihan ikan mas dan patin, di daerah . Lokasinya cukup ‘terisolir’: 2 jam dari bandara, 2 km dari kampung terdekat, dikelilingi kebun sawit dan karet, berteman dengan nyamuk dan tentu saja panas yang menyengat (meskipun dengan fasilitas yang cukup lengkap: kamar tidur ac plus spring bed, dispenser air panas/dingin dan televisi dengan parabola, yang nyaris tak pernah ditemui di lokasi pembenihan ikan lainnya) namun sempat pula berjalan-jalan melihat geliat pengembangan KJA di PLTA Kotapanjang yang membendung Sungai Kampar. (out of topic: posting ini dibuat dalam perjalanan kedua ke lokasi yang sama namun kedua perjalanan dengan tujuan yang sama, nyuntik ikan patin. Posting ini hanyalah suatu “overview” dari kacamata “outsider” yang merupakan “practitioner” tapi bukan “broker”, mudah-mudahan ada “entrepreneur” dan “regulator” yang membaca dan tertarik).

pict0012.jpg

Budidaya Ikan di KJA di Sekitar Daerah Batu Bersurat,
Waduk Kotapanjang, Kampar, Riau

Ketika para pembudidaya ikan di Pulau Jawa terengah-engah mengefisiensi antara harga ikan yang terus dikejar-kejar harga pakan dan bersaing ketat dengan sistem pemasaran yang ada, pembudidaya ikan di Kampar (dan mungkin di daerah lain di Sumatera) berlenggang kangkung menabur pakan (sebanyak-banyaknya?) dan meraup jutaan rupiah dari hasil akuakultur. “Semakin banyak pakan yang diberikan, semakin besar ikan yang dihasilkan, semakin tinggi rupiah yang dikumpulkan” nyaris menjadi falsafah yang harus dipegang erat. Dengan harga jual ikan mas Rp 11.000an/kg (di tingkat pembudidaya) dan harga pakan Rp 4.000an/kg, konversi pakan bukan lagi menjadi momok menakutkan yang mesti ditekan seefisien mungkin. Cukup memiliki 2-3 KJA, Rp 10-15 juta per bulan nampaknya sudah dapat memberikan penghasilan yang sangat layak bagi pembudidaya.Beragam ukuran ikan konsumsi yang dikehendaki konsumen membuat pembudidaya tidak perlu khawatir dengan semakin besarnya ikan yang dipelihara. Ikan mas mulai ukuran 500 gram/ekor hingga 2-3 kg/ekor dapat diterima di berbagai pasar ikan. Cukup kontras dengan situasi pasar di Pulau Jawa yang mungkin hanya menerima ukuran 300-400 gram/ekor dan ketika ikan sudah diatas 1-2 kg/ekor harus “menunggu” orang hajatan. Preferensi masyarakat yang cukup ketat terhadap warna ikan (Rantau Prapat menghendaki ikan mas warna terang dan Lubuk Linggau menghendaki warna gelap) justru semakin memperbesar peluang pemasaran ikan. Bukan hanya ikan mas, pasar juga dapat menerima ikan air tawar lain semisal patin (yang nyaris menjadi “trade mark” Sumatera), nila dan bahkan lele. Akseptibilitas pasar juga didukung oleh lokasi Kampar yang, boleh di kata, berada di titik tengah berbagai wilayah pemasaran: Rantau Prapat di Sumatera Utara, Padang di Sumatera Barat dan Pekan Baru di Riau itu sendiri, yang menyebabkan semua ikan konsumsi dapat masuk ke pasar.

Keberadaan waduk Kotapanjang di Kampar nampaknya menjadi berkah tersendiri bagi perkembangan budidaya ikan mas, khususnya. Berbeda dengan budidaya ikan Mas di Danau Toba, di sini KHV tidak mau (belum? Mudah-mudahan tidak) bersarang. Nampaknya stabilitas temperatur (diatas 27 oC?) sangat mendukung untuk menekan serangan KHV. Bencana perairan seperti up-welling sulfur di Maninjau atau up-welling limbah di Cirata juga tidak menyentuh waduk ini.

Daya tarik seperti itu tentu sangat mengundang tetes air liur para pengusaha. Perkembangan usaha budidaya ikan nampaknya akan melaju deras dalam beberapa tahun ke depan. Hal itu pula yang semestinya disadari para pembudidaya sekaligus menjadi perhatian pemerintah. Beberapa faktor mungkin perlu mendapat perhatian secara serius untuk tetap menjadikan bisnis akuakultur tetap layak menjadi pilihan.

Kebutuhan benih ikan mas, untuk waduk Kotapanjang sekitar masih sangat bergantung pada suplai dari tempat lain. Benar bahwa sistem seperti itu menguntungkan bagi perluasan wilayah pengembangan budidaya ikan. Namun di sisi lain, ketergantungan tersebut dapat menjadi batas dari pengembangan itu sendiri terutama ketika wilayah-wilayah lain mulai dengan usaha budidaya atau meningkatnya permintaan benih yang melebihi kapasitas produksi pembenihan atau ketika wilayah pembenihan mengalami masalah, misalnya penyakit. Adalah sangat menarik bila usaha budidaya ikan di Kampar tidak harus lagi bergantung pada suplai benih ikan mas dari Rao di Kabupaten Pasaman Timur, Sumatera Barat atau benih patin dari Pulau Jawa (baca: trans-regional benih patin). Dengan teknologi yang saat ini sudah tersedia, harusnya alam memihak pada usaha pembenihan ikan apapun dan di manapun.

Bahwa keberpihakan alam melalui daya dukung lingkungan dapat terbatas yang dapat mengakibatkan usaha budidaya terganggu, semisal dengan terjadinya up-welling limbah di Cirata, adalah merupakan suatu fenomena yang secara alami dapat terjadi dan tidak terlepas dari perilaku pembudidaya itu sendiri. Penumpukan limbah budidaya di dasar waduk pasti akan terjadi dan semakin bertambah seiring dengan perkembangan usaha budidaya ikan di atasnya. Karena itu, “ritual tahunan” Cirata, mestinya menjadi pelajaran bagi para pembudidaya ikan di Waduk Kotapanjang.

Mendorong masyarakat untuk membuka usaha pembenihan ikan dan melakukan upaya pengaturan pengembangan budidaya ikan di KJA nampaknya merupakan peran pemerintah (dan tentunya kesadaran pengusaha/pembudidaya) yang sangat diharapkan. Balai benih ikan (BBI) milik pemerintah daerah harus menjadi lokomotif bagi pengembangan usaha pembenihan sekaligus menjadi penyedia benih ikan yang mencukupi bagi para pembudidaya (bukan harus menjadi “agen penjual” dan menjadikan BBI sebagai “tempat penampungan sementara” benih dari Jawa, tentu ironis kalau itu sampai terjadi). Pemerintah daerah bersama dengan otoritas waduk dan pembudidaya juga perlu membuat batasan jumlah KJA di waduk agar over carrying capacity tidak terjadi dan kelayakan usaha budidaya tetap terjaga.

Keberlangsungan usaha budidaya ikan yang layak di Kampar tentunya akan sangat bermanfaat bagi masyarakat itu sendiri yang pada gilirannya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat atau setidak-tidaknya dapat menjadi sumber tambahan “kekayaan”.

Notes:
Terima kasih kepada Pak Isra yang telah memberi kesempatan untuk datang berkunjung ke lokasi budidaya miliknya.

2 Responses to “KeepinMind: Akuakultur di Kampar”


  1. 1 Roffi Agustus 22, 2007 pukul 2:20 pm

    wah seneng nya jalan² hehehe

  2. 2 tegal jaya patin Maret 7, 2010 pukul 9:43 pm

    TEGAL JAYA PATIN adalah suplyer terbesar bibit patin 1 inchi dan 2 inchi jateng DIY


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




lanjutan blog ini/ further this blog!!!

sunarma.net2

RSS http://sunarma.net

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Konsultan Akuakultur

Perlu bantuan untuk: Pemijahan ikan, Pengembangan usaha perikanan, Pembangunan Balai Benih Ikan, Pengadaan sarana produksi perikanan; Atau perlu kerjasama penelitian dan lainnya seputar akuakultur; Hubungi kami : juraganindoor(at)yahoo(dot)co(dot)id

juraganindoor[at]yahoo.co.id

“Book for YOU!”

a

Komentar yang memerlukan jawaban akan dijawab melalui email secara personal, jadi komentar hendaknya disertai alamat email yang terdaftar.

sejak 23 Juni 2007

  • 112,127 pengunjung

datang dari:

site statistics

support me, please!

TopAquaticSites.com Indonesia To Blog -Top Site All Tropical Fish Topsites List

who will give me the book?

1-84265-369-5 eel eel biology