Optimasi Balai Benih Ikan Air Tawar

Kebanyakan balai benih ikan (BBI) ikan air tawar milik pemerintah daerah tidak berfungsi secara optimal. Minimnya sarana prasarana, dana operasional terbatas, sistem dan desian perkolaman dan panti benih (hatchery) yang tidak tepat atau rusak dan kurangnya tenaga operasional merupakan alasan yang sering mengemuka. Secara keseluruhan, semua alasan tersebut nampaknya bermuara pada kesalahan manajemen balai itu sendiri, mulai dari perencanaan pembangunan hingga operasionalnya itu sendiri. Tulisan ini didasarkan pada pengalaman yang sudah pernah dijumpai selama ‘melihat-lihat’ BBI di berbagai daerah. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menghakimi atau mengkritisi kondisi tersebut tapi lebih merupakan tumpang saran bagi optimasi balai benih ikan sehingga dapat berguna bagi kepentingan masyarakat perikanan itu sendiri.

Pendahuluan

Di setiap propinsi dan hampir di semua kabupaten, minimal terdapat satu balai benih ikan (BBI). Secara ‘historis’, BBI hanya melekat pada komoditas ikan air tawar. Beberapa tahun belakangan ini, telah dibangun balai benih untuk ikan air payau dan laut yang diberi nama Balai Benih Ikan Pantai. Secara struktural, keberadaan BBI biasanya dibawah dinas yang membawahi perikanan. Secara fungsional, bekerja sama dengan Balai UPT Ditjen Perikanan Budidaya dan Lembaga Penelitian yang mensuplai induk ikan memberikan bimbingan teknis, BBI merupakan penyedia kebutuhan benih bagi masyarakat pembudidaya di daerahnya. Dengan struktur dan fungsi tersebut, pada dasarnya BBI memiliki peluang untuk menjadi acuan teknis budidaya bagi masyarakat sekaligus juga dapat menjadi barometer perkembangan budidaya perikanan di daerah yang bersangkutan.
Pada kenyataannya, banyak BBI yang tidak dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan. Meskipun kendala di setiap daerah dapat berbeda, namun tampaknya muara dari kurang optimalnya peran BBI tersebut adalah kurang tepatnya manajemen balai, mulai dari perencanaan pembangunan hingga oprasionalnya. Sebagai tumpang saran, beberapa hal perlu diperhatikan untuk melakukan optimasi peran BBI.

1. Perencanaan Pembangunan BBI
Adalah kenyataan yang banyak terjadi: kolam bocor akibat banyak rembesan, kekurangan pasokan air atau bahkan terkena banjir, sumber air tercemar dan sulitnya aksesibilitas yang membuat masyarakat (dan pelaksananya) ‘malas’ untuk mendatanginya. Semua itu dapat terjadi karena kurang baiknya perencanaan pada saat perencanaan pembangunan BBI.
Pastinya, setiap pembangunan BBI melibatkan konsultan perencana. Tapi, harus diakui bahwa tidak banyak konsultan pembangunan yang memahami masalah perikanan budidaya. Akhirnya, cukup dipahami bila kemudian perencanaan pembangunan melibatkan konsultan yang hanya memahami aspek konstruksi bangunan gedung. Ujung-ujungnya, pembangunan kolam ikan menggunakan sistem konstruksi gedung………(komentar: sebenarnya ada bagian sipil air tapi seringya tidak digunakan dengan alasan yang selalu sama, dana terbatas)
Perencanan pembangunan BBI harusnya mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan aksesibilitasnya. Secara simpel, dapat diterapkan penilaian lokasi dengan sistem mayor-minor. Penilaian sedapat mungkin dilakukan secara quantitatif dengan menentukan faktor-faktor: kualitas dan kuantitas air, kondisi tanah, aksesibilitas, keamanan dan perencanaan pengembangan ke depan. Secara mendetail, dapat dilakukan dengan pembuatan master plan.
Aspek bangunan panti benih (hatchery) juga mutlak harus diperhatikan. Ikan tropis memerlukan temperatur yang relatif tinggi, rata-rata pada kisaran 28 – 30 0C. Panti benih harusnya didesain agar dapat mempertahankan temperatur pada kisaran tersebut.

2. Penentuan Komoditas yang Dikembangkan
Secara nasional, beberapa komoditas ikan air tawar mendapat perhatian untuk dikembangkan. Namun hal itu bukan berarti komoditas ikan yang mau dikembangkan BBI harus mengikuti begitu saja. BBI juga tidak semestinya didesain untuk bisa mengembangkan multi-spesies. Bila semua faktor mendukung, pengembangan multi-spesies tidak menjadi masalah. Tapi bila meragukan, sebaiknya hanya ikan yang bernilai jual tinggi di setiap daerah yang mestinya menjadi acuan utama dalam pemilihan komoditas. Penentuan komoditas ini juga harus mempertimbangkan ketersediaan teknologi budidayanya.

3. Sarana Prasarana
Penyediaan sarana prasarana bagi BBI terkait erat dengan komoditas ikan yang akan dikembangkan. Suatu ilustrasi, wadah pemijahan untuk ikan mas tentunya berbeda dengan yang diperlukan untuk ikan patin. Penyesuaian pengadaan/pembangunan sarana mutlak harus disesuaikan dengan kebutuhan produksi ikan yang sudah dipilih, termasuk desain kolam induk, bak pemijahan, wadah pendederan dll. Yang perlu juga dipertimbangkan adalah keperluan minimal jumlah kolam yang akan digunakan dan jenis bak (tembok atau fiber glass).
Sementara itu, untuk mendukung keberhasilan produksi benih juga perlu didukung oleh ketersediaan alat dan bahan laboratorium kualitas air dan kesehatan ikan. Sayangnya juga, untuk hal ini sering kali tidak disesuaikan dengan kebutuhan bidang perikanan. Akhirnya, banyak peralatan laboratorium yang tidak dimanfaatkan……

4. Tenaga Operasional
Kurangnya tenaga pelaksana bidang perikanan adalah keluhan yang nyaris terjadi dimana-mana. Operasional BBI hanya bertumpu pada pegawai yang sudah bertahun tidak pernah mengecap pelatihan mengenai teknik budidaya ikan (komentar: salut sekali pada kesabaran mereka yang sudah tua-tua tapi masih berjuang untuk itu, meskipun banyak diantara mereka ‘hanya’ sebagai tenaga honorer ‘akut’).
Di sisi lain, setiap tahun rekruitmen pegawai baru di bidang perikanan hampir selalu ada, baik tingkat menengah ataupun sarjana. Sayangnya, tenaga baru ini sering kali langsung diterjunkan sebagai penyuluh lapangan atau yang lebih ‘menyedihkan’ dipekerjakan di bidang administrasi. Alangkah baiknya, kalo pegawai baru yang rata-rata masih muda dan mempunyai latar belakang perikanan ‘ditanam’ terlebih dahulu di BBI, baik sebagai pembekalan teknologi praktis sebelum harus ‘berhadapan’ dengan bapak-bapak pembudidaya ataupun ‘memanfaatkan’ keterampilan dan semangat mereka untuk mengembangkan BBI.
Peningkatan kemampuan tenaga operasional BBI juga mutlak diperlukan. Mereka perlu dilatih untuk mengenal dan memahami teknologi budidaya sesuai dengan kemajuan yang ada sekaligus agar mereka dapat mengadopsinya untuk dapat diterapkan di BBI. Sayangnya, kebanyakan pelatihan tenaga operasional dilakukan di tempat yang ‘sudah maju’ dan memiliki peralatan lengkap. Strategi yang tepat adalah melatih mereka di tempat mereka bekerja sehingga proses adopsi teknologi dibimbing langsung sama ahlinya. Singkatnya, datangkan tenaga ahli untuk melatih di BBI!!!

Penutup
Pada dasarnya, tulisan ini bukan semata-mata ditujukan hanya pada BBI. Tumpang saran diatas juga dapat diterapkan bagi siapapun yang berminat membangun sebuah panti benih untuk ikan air tawar. Hal-hal teknis yang berkaitan untuk hal tersebut atau memerlukan versi cetaknya (dalam format pdf), dapat menghubungi penulis melalui email ke juraganindoor@yahoo.co.id.

About these ads

11 Responses to “Optimasi Balai Benih Ikan Air Tawar”


  1. 1 fikri September 30, 2007 pukul 1:05 pm

    kalu bisa ditambah yang lebih lengkap lagi ya isinya

  2. 2 Rendy Oktober 17, 2007 pukul 7:27 pm

    Saya sangat setuju dengan artikel juragan di atas. Karena pada kenyataanya BBI hanya dijadikan proyek pencarian dana pemerintah daerah, yang realisasinya sangatlah minim. Sebagai contoh ada sebagian BBI yang membiarkan kolamnya mangkrak begitu saja, atau ada yang lebih kreatif lagi, seperti menanami lahan kolam dengan tanaman-tanaman palawija seperti jagung dan singkong. Ini sungguh sangat ironis, nanti BBI yang harusnya buat ikan malah jadi balai benih tanaman. Saya disini hanya sebagai masyarakat yang miris melihat keadaan BBI di daerah. Padahal BBI bisa menjadi sentra perkembangan dan pertukaran informasi yang sangat penting peranannya di Masyarakat. Saran saya mah, semua harus diubah dari masing-masing pribadi yang ada di BBI itu dan yang ada di luar BBI (pemerintah dan masyarakat). Kalo sikap dan mentalnya masih sama mah, sampe kapan juga tetep aja kayak gitu. Makanya pemerintah sebagai pembuat kebijakan harus menetapkan aturan yang ketat… Nasib suatu kaum tidak akan berubah kecuali dia berusaha untuk keluar dan mengubah nasibnya sendiri.

  3. 3 krisi November 1, 2007 pukul 9:05 am

    bisa mita cara teknik budidaya ikan patin ga? dan cara memper oleh bibit ya bagus dan uggul tolong bls ya kalo bis ke emil saya

  4. 4 Ponky Desember 3, 2007 pukul 12:46 pm

    Saya sangat setuju dengan tulisan diatas mengenai kondisi BBI. Seharusnya fungsi utama mereka adalah menjamin ketersediaan bibit ikan unggul berkwalitas. Tapi, di lapangan, apa yang terjadi adalah bila stok kosong, BBI malahan mencari bibit ke masyarakat, sehingga konsep bibit unggul adalah 0 besar. Akibatnya, mata rantai pembesaran ikan akan terpengaruh, karena petani akan mendapatkan bibit ikan yang kualitasnya tidak jelas. Sejauh yang saya lihat, revitalisasi perikanan baru sebatas omong omong doan dan tidak ada gaung nya di lapangan.

  5. 5 rivafauziah Februari 23, 2008 pukul 9:27 am

    IKAN MEMANG USAHA YANG SANGAT MENJANJIKAN..

  6. 6 supmbogor April 10, 2008 pukul 8:46 pm

    Setuju Kang, tapi tidak 100 persen.

  7. 7 Gatot April 28, 2008 pukul 3:53 am

    Plok…….Plok………Plok.
    Saya setuju sekali dengan tulisan di atas (Optimasi BBI).
    Saya staf baru di BBI Lokal.
    Pertama saya masuk, keadaannya sama persis seperti yang dituliskan di tulisan di atas.

    Dana saya rasa tidak minim, apalagi selalu ada DAK setiap tahunnya.
    Yang jadi masalah, saat perencanaan dan pembangunan, orang yang punya kemampuan Budidaya Perikanan tidak dilibatkan. hingga akhirnya terciptalah BBI yang sulit sekali untuk dikembangkan, contohnya bak pemijahan dibuat dengan bak semen ditambah atap seng asbes setinggi sekitar 7-8 meter tanpa dinding. Hasilnya, suhu air di bak pemijahan sekitar 25-27, yang akhirnya benih sering mati atau mengalami pertumbuhan yang lambat. Dan banyak lagi kendala lainnya.

    Tapi saya rasa kendala itu akan menjadi tantangan yang mengasikan jika memang kita memiliki dasar ilmu dan semangat. Alhamdulillah, sekarang BBI kami mulai berproduksi.

    Namun, saya kurang sependapat dengan pak Ponky (maaf pak).
    BBI selain memproduksi benih, juga melakukan pembinaan ke masyarakat.
    Kebetulan saya juga melakukan pembinaan.
    Dalam melakukan pembinaan, saya selalu mengedepankan mutu, dengan acuan SNI yang sudah ada.

    Karena tidak ada keterbatasan pergerakan seperti halnya BBI (biaya operasional), mereka (pembudidaya) malah dapat bergerak bebas untuk lebih meningkatkan mutu benihnya. Hasilnya Pak, kualitas benih yang dihasilkan lebih baik dari BBI punya, dan saya tidak malu mengakui itu. Apapun ceritanya Pak, kita (BBI) hanya membantu masyarakat, bukan memonopoli perdagangan benih. Lagipula mana ada BBI yang sanggup memenuhi kebutuhan pasar akan benih. Jika ketersediaan benih BBI tidak mencukupi, kami akan merekomendasi UPR-UPR yang berada dalam binaan kami.

    Saya rasa yang perlu dilakukan BBI adalah mendekatkan diri kepada masyarakat sehingga seluruh kualitas benih dapat terpantau BBI dan kalau itu saja terpenuhi, wah…sudah luar biasa itu pak.

    Masyarakat membutuhkan informasi dan pengawasan dari BBI
    BBI membutuhkan masyarakat untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya air tawar.
    Bersama kita (masyarakat dan pemerintah) membangun Perikanan Budidaya yang Tangguh.

    Sekali lagi itu hanyalah pemikiran saya. Pergerakan saya agak susah pak, karena saya hanya seorang bawahan yang siap menerima perintah apa saja dari atasan (termasuk ngetik surat-surat, jadi bagian admnistrasi).

    InsyaAllah kalau nanti saya dipercaya, saya akan mengembangkan BBI kami untuk lebih maju dan sesuai dengan yang diinginkan masyarakat.

  8. 8 ali Juli 24, 2008 pukul 1:03 pm

    Usaha ikan lagi susah sekarang, harga pakan naik terus

  9. 9 tiyas Juli 24, 2008 pukul 1:06 pm

    ditempat saya, bibit yang ada nggak lengkap, cari bibit nila aja susah

  10. 10 wien April 19, 2009 pukul 12:32 am

    Aww.Sy sangat setuju dengan argumen pada artikel itu karna pada dasarnya BBI yang ada di indonesia hanya berorentasi pada “asal bapak senang” sehingga apa yang terjadi BBI hanya pelaporan diatas kertas doang sehingga wajar perikanan budidaya indonesia hanya jalan-jalan ditempat

  11. 11 Masykur. Hz Maret 1, 2010 pukul 12:41 am

    Saya sependapat dengan tulisan di atas. Namun ada hal lain yang mendasari tidak/kurang optimalnya BBI di daerah terutama yang berplat merah/pemerintah, yaitu manajemen tidak berorientasi bisnis; selalu “menetek” dari dana pemerintah, tanpa target, tanpa beban dan resiko. Jika ada yang berjalan lancar. Masih hanya sekedar menutupi operasional. Bandingkan dengan teman-teman kita yang mempunyai bisnis sejenis. Tanpa fasilitas yang memadai mereka bisa berkembang dengan baik dan menguntungkan. Saatnya manajemen BBI pemerintah dikelola secara swastanisasi. “Insan perikanan harus berbisnis dibidang perikanan”, demikian kata Menteri Kelautan dan Perikanan yang baru, saat acara Akselerasi pengembangan perikanan budidaya di Batam beberapa waktu yang lalu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




lanjutan blog ini/ further this blog!!!

sunarma.net2

Konsultan Akuakultur

Perlu bantuan untuk: Pemijahan ikan, Pengembangan usaha perikanan, Pembangunan Balai Benih Ikan, Pengadaan sarana produksi perikanan; Atau perlu kerjasama penelitian dan lainnya seputar akuakultur; Hubungi kami :0816 4638479 untuk keterangan Pelatihan On-Farm, Pelatihan Off-Farm atau Konsultasi On-Farm, klik disini!

juraganindoor[at]yahoo.co.id

“Book for YOU!”

a

Komentar yang memerlukan jawaban akan dijawab melalui email secara personal, jadi komentar hendaknya disertai alamat email yang terdaftar.

sejak 23 Juni 2007

  • 103,717 pengunjung

datang dari:

site statistics

support me, please!

TopAquaticSites.com Indonesia To Blog -Top Site All Tropical Fish Topsites List

who will give me the book?

1-84265-369-5 eel eel biology

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.